Sejarah GKJW
Sejarah GKJW
Francesco X IPS 2
GKJW atau Gereja Kristen Jawa Wetan adalah gereja yang didapati dari hasil dua orang bernama C.L Coolen dan Johanes Emde, tetapi nama tersebut tidak selalu GKJW, pendirian gereja ini dimulai sebagai hanya persekutuan. Mereka memiliki pandangan yang berbeda tetapi nyambung untuk melakukan kerja sama yang efektif. Mereka berdua hanya orang Kristen awam yang memiliki gairah untuk menyebar dan memberitakan injil kepada orang yang mereka ketemui dan mau mendengari. Mereka memandangi dua corak pandangan teologis tentang iman kristen.
Johanes Emde adalah seorang penginjil Kristen dari negara Jerman yang tinggal di Indonesia.
C.L Coolen adalah seorang Kristen yang memiliki peranakan Rusia-Belanda dan Jawa
C.L Coolen memiliki pandangan dimana ia memiliki fokus dan perhatiannya di budaya lokal atau setempat dimana,
Johannes Emde menentang budaya atau tradisi lokal/setempat.
Mereka menyebarkan visi dan corak teologi mereka dan ini mewarnai teologi dan sistem.
Johannes Emde berkata jika mengikuti jalan Kristen, sepanjang jalan kamu akan melepaskan cara hidup yang lama dan akan mendapati pengaruh dari barat (Belanda), tetapi,
C.L Coolen berkata kalau kamu mengikuti jalan Kristen, kamu tidak memerlui melemparkan tradisi, budaya dan cara yang kamu sudah terbiasa yang selama ini mengasihi warna dan makna kepada hidupmu. Jadi setelah dibaptis tetap boleh memakai sarung, kain kebaya dan menonton wayang. Karena yang paling penting adalah menggantikan cara kamu menjalani hidup dan bukan tradisi seperti tradisi yang tidak menyakiti atau meganggui seperti menonton wayang atau tradisi festival. Jalan baru yang kamu dikasihi, kata C.L Coolen itu adalah perspektif moralitas yang baru yang telah dikasihi oleh Tuhan di dalam Yesus Kristus setelah dibaptis.
Baptisan kudus yang pertama yang dijalani oleh mulainya GKJW, terjadi pada tanggal 12 Desember, 1843 di kota Surabaya, mendekati ulang tahun Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember. Sejak peristiwa baptisan ini, waktu berlalu dengan cepat, tetapi pertumbuhan persekutuan tersebut juga cepat menumbuh. 16 tahun setelah itu, Johannes Emde telah meninggalkan dunia dan pulang kembali kepada rumah Bapa. Dan pada 1873, C.L Coolen telah reuni kembali dengan belahan jiwanya, yaitu Johannes, sesama pendiri, dan telah kembali kepada Bapa.
meskipun tanpa mereka, persekutuan tersebut tetap stabil dan tetap bertumbuh dalam jumlah divisi dan anggota.
Pada tanggal 11 Desember 1931, persekutuan tersebut yang tidak memiliki nama resmi, akhirnya memiliki nama tersebut, yaitu "Pasamuwan-pasamuwan Kristen ing Tanah Djawi Wetan". Akhirnya, diakui oleh pemerintah dan persekutuan tersebut dinamai, "Oost-Javaansche Kerk" yang memiliki arti, "East Javanese Church", dan akhirnya diganti lagi menjadi Gereja Kristen Jawa Wetan untuk ketiga kalinya dan untuk terakhir kalinya, oleh S.K Dirjen Bimas (Seorang Kristen), Prostestan Departemen Agama Republik Indonesia pada tanggal 1979.
Selama perjalan lama ini tentang 2 tokoh dan menjadi suatu persekutuan yang diresmikan. Peristiwa ini mengalami banyak pergantian secara pertumbuhan dan dinamika, tetapi, jalan tersebut selalu menujui keatas.
Kondisi GKJW sekarang memiliki 136 divisi dan sekitar 153.000 anggota seberang Jawa. Kebanyakan kali di daerah pendesaan seperti Petung Ombo di Kediri. GKJW ada dibanyak tempat, kondisi baik maupun kesulitan, untuk membantui semua orang memiliki akses kepada Kristus dan kepada moralitas hidup yang lebih baik.
Amin.
Baptisan kudus yang pertama yang dijalani oleh mulainya GKJW, terjadi pada tanggal 12 Desember, 1843 di kota Surabaya, mendekati ulang tahun Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember. Sejak peristiwa baptisan ini, waktu berlalu dengan cepat, tetapi pertumbuhan persekutuan tersebut juga cepat menumbuh. 16 tahun setelah itu, Johannes Emde telah meninggalkan dunia dan pulang kembali kepada rumah Bapa. Dan pada 1873, C.L Coolen telah reuni kembali dengan belahan jiwanya, yaitu Johannes, sesama pendiri, dan telah kembali kepada Bapa.
meskipun tanpa mereka, persekutuan tersebut tetap stabil dan tetap bertumbuh dalam jumlah divisi dan anggota.
Pada tanggal 11 Desember 1931, persekutuan tersebut yang tidak memiliki nama resmi, akhirnya memiliki nama tersebut, yaitu "Pasamuwan-pasamuwan Kristen ing Tanah Djawi Wetan". Akhirnya, diakui oleh pemerintah dan persekutuan tersebut dinamai, "Oost-Javaansche Kerk" yang memiliki arti, "East Javanese Church", dan akhirnya diganti lagi menjadi Gereja Kristen Jawa Wetan untuk ketiga kalinya dan untuk terakhir kalinya, oleh S.K Dirjen Bimas (Seorang Kristen), Prostestan Departemen Agama Republik Indonesia pada tanggal 1979.
Selama perjalan lama ini tentang 2 tokoh dan menjadi suatu persekutuan yang diresmikan. Peristiwa ini mengalami banyak pergantian secara pertumbuhan dan dinamika, tetapi, jalan tersebut selalu menujui keatas.
Kondisi GKJW sekarang memiliki 136 divisi dan sekitar 153.000 anggota seberang Jawa. Kebanyakan kali di daerah pendesaan seperti Petung Ombo di Kediri. GKJW ada dibanyak tempat, kondisi baik maupun kesulitan, untuk membantui semua orang memiliki akses kepada Kristus dan kepada moralitas hidup yang lebih baik.
Amin.


Comments
Post a Comment